21 Oktober 1975: “Persib Kalah? Innalillahi…”

Suasana pertandingan antara Persib dan PS Bangka pada lanjutan Pool D babak 18 Besar Kejurnas PSSI 1973-1975 di Stadion Menteng Jakarta, Selasa (21/10/1975). @pikiran-rakyat.com

Kisah kekalahan Persib atas PS Bangka pada pertandingan kedua Pool D babak 18 Besar Kejurnas PSSI 1973-1975 di Stadion Menteng Jakarta, Selasa (21/10/1975) yang ditulis Gugum Rachmat Gumilang di pikiran-rakyat.com, 8 Juli 2017.

SELASA malam, 21 Oktober 1975, pesawat telefon di ruang redaksi Harian Umum Pikiran Rakyat tak henti-henti berdering. Semua yang menghubungi melontarkan pertanyaan yang sama, “Persib menang, Kang?”, “Berapa skornya?”. Aktivitas yang sudah biasa terjadi setiap usai pertandingan Persib Bandung waktu itu.

Menghubungi kantor redaksi Pikiran Rakyat adalah jalan pintas mengetahui hasil pertandingan tim Pangeran Biru di luar kota. Ya karena memang belum ada siaran langsung televisi. Setidaknya, awak redaksi akan membocorkan hasil pertandingan pada para penelefon sebelum berita terbit keesokan paginya. Yang belum punya pesawat telefon, malah rela datang ke kantor redaksi.

Saking banyaknya yang menghubungi, tak ada lagi pertanyaan “Dengan siapa?” atau “Ada perlu apa?”. Penerima telefon tanpa ba-bi-bu langsung menyebut hasil pertandingan. Lantas hubungan telefon berakhir begitu saja dengan ucapan “Haturnuhun”.

Namun ada yang berbeda dibandingkan ‘teror’ telefon pada laga-laga biasanya. Malam itu, perbincangan bersama masing-masing penelefon agak lebih lama. Mereka mengaku tak percaya dengan hasil laga.

Pasalnya, beberapa jam sebelum itu, Persib Bandung baru saja kalah 0-1 dari PS Bangka di Stadion Menteng, Jakarta. Hasil yang tak seharusnya didapatkan oleh Atik dkk. PS Bangka hanyalah tim medioker di kejuaraan PSSI 1973-1975. Tak ada pemain bintang, keberadaan tim ini bahkan tak masuk hitungan persaingan. Apalagi di pertandingan sebelumnya, Pangeran Biru berhasil membuat malu tim tangguh PSM Ujungpandang dua gol tanpa balas.

Respons Bobotoh Persib

Nada tak percaya terus bermunculan dari bobotoh yang menghubungi. Pertanyaan yang berulang-ulang pun dilontarkan. Terutama dari para inohong Bandung yang juga ‘berlangganan’ meminta bocoran hasil pertandingan. Termasuk dari Wali Kota Bandung sekaligus Ketua Umum Persib saat itu, R Otje Djundjunan.

“Ini betul??? Masa sama Bangka kalah?” kata Otje berulang kali saat berbincang di telefon.

“Wah Persib mesti kerja keras lawan (Persema) Malang kalau ingin berhasil,” lanjut suami dari Popong Otje Djunjunan tersebut sedikit mengeluh.

Perbincangan tak jauh berbeda juga terjadi saat telefon datang dari Ketua I Persib, Huzaini yang saat itu tak mendampingi tim ke Jakarta. “Ah yang benar.. Benar kalah??? Siapa saja yang diturunkan? Aduh, kenapa mesti kalah?” kata dia keheranan.

Selain bobotoh dan pengurus aktif Persib yang kebetulan tak datang ke stadion, sejumlah mantan awak tim juga menanyakan hal serupa. Salah satunya R Ading Affandi yang pernah bergabung di Komisi Teknik tim Pangeran Biru. “Bagaimana hasilnya? Persib kalah??? Innalillahiii..” kata dia.

Sementara bobotoh yang datang langsung ke kantor redaksi, selain melontarkan pertanyaan bernada tak percaya, juga memberi beragam komentar. “Mungkin ini kesalahan strategi. Ini kan kompetisi, seharusnya di pertandingan-pertandingan macam ini, Persib pakai strategi, jangan sampai kehilangan biji. Kalau memang lawan sulit dikalahkan, cepat ganti taktik. Main bertahan kek. Kan draw, tambah biji satu. Sayang kalah,” ucap bobotoh asal Bandung yang tak ditulis namanya tersebut.***


About the Author

ENDAN SUHENDRA
Journalist and writer

Be the first to comment on "21 Oktober 1975: “Persib Kalah? Innalillahi…”"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*