Adjat Sudradjat, Megabintang Bengal dan Kontroversial

Adjat Sudradjat @FootballStar

MEMBICARAKAN Persib tidak sah jika nama Adjat Sudradjat terlewatkan. Di era generasi Persib pada dekade 80-an, “Si Arab” adalah seorang megabintang. Teknik tinggi, olah bola mumpuni, diving header aduhai, berkarakter dan tentu saja kontroversial menjadikannya sebagai pemain tersohor, bahkan hingga saat ini setelah lama gantung sepatu.

Seperti sebagian besar pemain Persib di era 80-an, Adjat merupakan buah pembinaan spartan yang dilakukan pengurus yang mendatangkan pelatih asal Polandia, Marek Janota, setelah tenggelam di Divisi I 1979. Namanya mulai dikenal bersama Persib U-19 yang menjadi runner-up Piala Suratin 1982.

Kebintangan Adjat mulai terdeteksi pada Kompetisi Divisi I Perserikatan 1983. Meski tidak sampai menjadi juara, berkat kesuburannya mencetak gol bersama Wolter Sulu, Wawan Karnawan dan Yana Rodiana, Persib dibawanya kembali ke jajaran elite persepakbolaan nasional. Persib promosi ke Divisi Utama setelah menempati peringkat ketiga. Secara individual, Adjat dinobatkan sebagai pencetak gol terbanyak dengan 9 gol.

Masih di tahun yang sama, Adjat langsung mengguncang persepakbolaan nasional dalam debutnya di Divisi Utama. Meski gagal mengantarkan Persib menjadi kampiun lantaran kalah adu penalti dengan PSMS Medan, Adjat memborong dua trofi individual, pemain terbaik dan pencetak gol terbanyak Kompetiisi Divisi Utama Perserikatan 1983.

Dengan jumlah gol yang lebih banyak yakni 16, Adjat membuat hattrick pemain tersubur pada Kompetisi Perserikatan 1985. Sayang, Persib lagi-lagi kandas di final lewat tendangan adu penalti dengan PSMS.

Adjat baru bisa merasakan gelar juara setelah Persib menjadi kampiun Kompetisi Perserikatan 1986 setelah mengalahkan Perseman Manokwari 1-0 di final. Sayang, Adjat kehilangan trofi pemain terbaik dan pencetak gol terbanyak.

Setelah melewati masa-masa sulit di Kompetisi Perserikatan 1986/1987 dan 1987/1988, Adjat sempat dicoret dari skuad Persib lantaran dugaan suap. Namun, ia masih mau memperkuat Persib ketika dipanggil kembali menjelang Kompetisi Perserikatan 1989/1990. Ia pun membantu Persib kembali menjadi kampiun.

Setelah itu, Adjat memutuskan meninggalkan Persib dan bergabung dengan Bandung Raya. Ketika itu, Adjat kecewa kepada pengurus Persib yang dinilainya tidak konsisten dengan janjinya memberikan bonus sebuah mobil taksi buat para pemain. Mobil taksi memang diberikan, tapi pemain harus tetap memberikan setoran kepada pengusaha yang memberikan bonus.

Tapi, itu baru satu episode kontroversialnya sosok megabintang Persib itu. Masih banyak kisah kontroversial Adjat lainnya, terlebih setelah ia berkostum Bandung Raya, rival sekota Persib. Salah satunya, perseteruan dengan Ketua Umum Persib, Wahyu Hamijaya di Liga Indonesia (LI) II/1995-1996.

Meskipun demikian, totalitas Adjat buat Persib tak perlu diragukan. Dalam rentang waktu 10 tahun bersama Persib, ia selalu berusaha memberikan yang terbaik.

DATA DIRI

Nama: Adjat Sudradjat
Kelahiran: Bandung, 5 Juli 1962
Tinggi/Berat: 170 cm/60 kg
Posisi: Depan/Tengah
Persib: 1983-1990
No. Punggung: 10
Caps Persib:
Gol Persib
:

About the Author

ENDAN SUHENDRA
Journalist and writer

Be the first to comment on "Adjat Sudradjat, Megabintang Bengal dan Kontroversial"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*