Dicky Firasat, Striker Spesialis Pengganti Bernomor Punggung 16

Striker Persib, Dicky Firasat dikawal pemain Persikota, Alberto Peto dan Firmansyah pada pertandingan lanjutan Liga Indonesia (LI) XII/2006 di Stadion Siliwangi Bandung, Rabu (24/5/2006). @epaper pikiran rakyat

DICKY Firasat merupakan striker yang coba diorbitkan di tengah proyek regenerasi Persib di bawah komando pelatih asal Polandia, Marek Andrejz Sledzianowski menjelang bergulirnya Liga Indonesia (LI) IX/2003.

Masih berusia 22 tahun, ia dipulangkan dari Persikabo Bogor dan bergabung dengan para pemain muda “tanpa nama” lain seperti Rachman F., Yosep Nandang, Aji Nurpijal, Jaenal Abidin, Eka Santika, dan Jaja Hidayat.

Proyek ini sebenarnya sangat menjanjikan setelah kegagalan Persib meraih prestasi terbaik dengan materi pemain senior pada LI VIII/2002. Terlebih, selain pelatih, pada musim ini, pengurus Persib mulai membuka keran pemain asing yang diharapkan menjadi daya dongkrak performa pemain lokal.

Sayang, proses adapatasi berkepanjangan pelatih dan pemain asing asal Polandia — saat itu Persib merekrut Marius Mucharski (kiper), Pavel Bocian, Piotr Orlinski dan Maciej Dolega — membuat prestasi tim terpuruk. Tanpa kemenangan dalam 12 pertandingan pertama menjadi catatan kelam Persib ketika itu.

Dampaknya tentu kepada performa pemain muda, termasuk Dicky Firasat. Sebenarnya, ia sering mendapatkan kesempatan tampil sekalipun hanya beberapa menit sebagai pemain pengganti Maciej Dolega, Imral Usman, Asep Dayat atau Suladi. Namun, keterpurukan prestasi tim membuat Dicky sulit berkembang.

Meskipun menjadi spesialis penghangat bangku cadangan, pemain yang identik dengan jersey bernomor punggung 16 ini masih sempat mencetak gol pertamanya untuk Persib pada pertandingan ke-18 di Stadion Siliwangi. Sayang, golnya pada menit ke-70 hanya mampu menyelamatkan Persib dari kekalahan dari Persik Kediri. Skor akhir 1-1.

Status pemain cadangan terus melekat pada diri Dicky di era kepelatihan Juan Antonio Paez dari Cile yang menggantikan Marek pada pertengahan LI IX/2003 hingga LI X/2004. Sejak saat itu, tak ada sumbangsih gol Dicky untuk Pangeran Biru.

Ketika Indra M. Thohir kembali menangani Persib pada LI XI/2005, nama Dicky tetap tenggelam di bawah bayang-bayang sinar Ekene Michael Ikenwa dan Boy Jati Asmara.

Kalau boleh disebut “masa keemasan” Dicky bersama Persib, itu terjadi pada LI XII/2006, justru ketika tim ini kembali mengalami keterpurukan prestasi di era kepelatihan Risnandar yang kemudian dilanjutkan Arcan Iurie Anatolievici. Setidaknya, pada musim ini, Dicky bisa bersaing dengan striker lainnya seperti Zaenal Arif, Redouane Barkaoui dan Gendut Doni Christiawan. Pada musim ini, ia pun menyumbangkan tiga gol untuk Persib, meski dua di antaranya tak mampu menghindarkan Persib dari kekalahan.

Masih bersama Arcan Iurie, kesabaran Dicky menanti kesempatan menadi bintang Persib berakhir pada di LI XIII/2007. Tak mampu mengubah status sebagai pemain pengganti, ia memutuskan meninggalkan Persib di akhir musim. Klub yang ditujunya adalah Persela Lamongan yang akhirnya bisa sedikit melambungkan namanya di pentas sepakbola nasional.

DATA DIRI

Nama: Dicky Firasat
Kelahiran: Bandung, 16 Juli 1980
Tinggi: 176 cm
Posisi: Depan
Persib: 2003-2007
No. Punggung: 16
Caps Persib:
Gol Persib: 4

About the Author

ENDAN SUHENDRA
Journalist and writer

Be the first to comment on "Dicky Firasat, Striker Spesialis Pengganti Bernomor Punggung 16"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*