Tapak

Memang belum ada dokumen atau bukti otentik yang meyakinkan soal hari kelahiran Persib. Namun, klub kebanggaan warga Bandung dan Jawa Barat itu sangat meyakini pada tanggal 14 Maret 1933, sebuah bond sepakbola pribumi berdiri di Kota Bandung.

Momentum kelahiran Persib adalah sebuah cerita meleburnya dua bond sepakbola pribumi bernama Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond (BIVB) yang sudah ada sejak tahun 1923 dan National Voetbal Bond (NVB) menjadi Persatoean Sepakbola Indonesia Bandoeng (PSIB). Keduanya bergabung karena Persatoen Sepakraga Seloeroeh Indonesia (PSSI) hanya mengizinkan satu bond di setiap kota yang berhak tampil di kejuaraan nasional. Konon, bond hasil fusi dipimpin seorang tokoh bernama Anwar St. Pamoentjak.

Seperti halnya hari jadi Persib, catatan dan dokumen yang bisa memastikan kapan pertama kali sepakbola di Bandung dimainkan, tergolong sangat minim. Satu hal yang pasti, jauh sebelum BIVB dan NVB melakukan fusi, sepakbola sudah dimainkan di Bandung, setidaknya sejak akhir abad ke-19. Yang memainkannya kebanyakan orang-orang Belanda. Meskipun demikian, warga pribumi (inlander) dan sejumlah etnis seperti Tionghoa, Arab dan Ambon pun kemungkinan besar sudah memainkan sepakbola. Sebab, sejumlah catatan sejarah menyebutkan, permainan yang dikenal dengan sebutan sepakraga itu sudah digandrungi masyarakat masyarakat di masa itu.

Pada awalnya, mereka memainkan sepakbola hanya sebagai ajang rekreasi dan menjaga kebugaran tubuh. Namun dalam perkembangannya, mereka membentuk perkumpulan tersendiri. Perkumpulan sepakbola pertama yang didirikan di Bandung adalah Bandoeng Voetbal Club (BVC) pada tahun 1900, Bandoengsche Sport Vereniging Uitspanning Na Inspanning (UNI) tahun 1903 dan Sport in de Open Lucht is Gezond (SIDOLIG)  tahun 1905. Pada tahun-tahun selanjutnya, muncul klub-klub lain seperti Laat U Niet Overwinnen (LUNO) dan perkumpulan sepakbola militer seperti Velocitas (Cimahi), dan Sparta.

Pada masa itu, perkumpulan-perkumpulan sepakbola tersebut berlatih, bermain dan bertanding di Alun-Alun depan Masjid Agung.  Namun, pada tahun 1905, Residen Priangan  melarang sepakbola dimainkan di tempat itu. Alasannya sederhana, pusat kota Bandung terlihat sangat kumuh. Apalagi setelah hujan turun, lapangan di depan Masjid Agung pasti berkubang lumpur karena dipakai bermain bola.

  Atas larangan penggunaan Alun-Alun sebagai tempat bermain bola, UNI memilih pindah ke sebuah lapangan Goedang Oeyah (sekarang Gedung Bank Indonesia). Sedangkan klub-klub lain pindah lapangan Gementte (sekarang Balai Kota Bandung). Dalam Satu Abad UNI Mengabdi (2003) dikisahkan, di Lapangan Goedang Oeyah inilah, UNI kerap bertanding dengan klub-klub ternama di Bandung seperti SIDOLIG,  School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA/sekolah kedokteran), School tot Opleiding Indische Tandarsten (STOVIT/sekolah perawat gigi), Garnizoen Tjimahi dan Garnizoen Batoedjadjar.

Sebagai catatan, STOVIA adalah tim sepakbola pelajar bumiputera. Hal ini menunjukkan bahwa sepakbola sudah dimainkan oleh inlander, kendati terbatas di kalangan terpelajar. Selain itu, sepakbola meneer yang konon sangat eksklusif, ternyata sudah mencoba berinteraksi dengan kaum pribumi. Bahkan, dalam Satu Abad UNI Mengabdi disebutkan, ketika mereka berlatih dan bertanding di Alun-Alun, banyak sekali orang-orang pribumi yang menyaksikannya.

“Bahkan, lambat laun satu-dua orang di antara mereka (kaum pribumi) mulai ikut bergabung, berlatih, bertanding, serta masuk menjadi anggota perkumpulan,” demikian Satu Abad UNI Mengabdi menulis.

Pertandingan-pertandingan UNI di Lapangan Goedang Oeyah ini pun cukup menyita perhatian publik sepakbola Bandung ketika itu. Karena sorak-sorai dan hiruk-pikuk penonton sangat mengganggu kekhidmatan beribadah, jemaat Gereja Katedral di Merdikaweg (Jln. Merdeka) dan Gereja Bethel di Logeweg (Jln. Wastukancana), melayangkan protes kepada Residen Priangan. Pada tahun 1908, pertandingan UNI dan klub-klub Bandung lainnya pun kembali terusir dari Lapangan Goedang Oeyah.

Sebagai gantinya, Residen Priangan memberikan sebuah tegalan bekas sawah di salah satu sudut Javastraat (Jln. Jawa). Di atas lapangan itu, kini berdiri gedung Bank Tabungan Negara (BTN).   Dalam perkembangan selanjutnya, UNI akhirnya membangun lapangan sendiri di Ootsteinde (Jln. Karapitan) yang dibelinya dengan cara mencicil dari Bupati Bandung, R.A.A. Wiranatakusumah pada tahun 1925. Sedangkan SIDOLIG membangun lapangan di Postweg (Jln. Ahmad Yani) dan Sparta di Jln. Lombok (sekarang Stadion Siliwangi).

Selain di pusat kota, pada masa itu juga ada sejumlah lapangan yang sering digunakan bermain bola seperti di Cikudapateuh, Tegallega, dan Ciroyom. Menurut catatan R. Ading Affandi (RAF) dalam Lintasan Sejarah Persib karya Risnandar Soendoro (2001), lapangan-lapangan yang disebutnya berada di pinggiran kota itu merupakan tempat kaum inlander alias pribumi bermain bola. Karena berada di daerah pinggiran, pertandingan-pertandingan yang diadakan kurang mendapatkan perhatian penggila bola. Ketika itu, para pecandu bola, termasuk warga pribumi, lebih memilih menyaksikan pertandingan-pertandingan sepakbola meneer di pusat kota.

Bukan hanya lapangan, untuk urusan kompetisi, meneer-meneer Belanda juga menjadi pioner. UNI misalnya, karena di Bandung belum ada pertandingan yang bersifat kompetitif, pada tahun 1904, UNI sempat bertanding dengan Bataviasche Voetbal Club (BVC). Pada tahun 1906, UNI juga mengikuti sebuah kompetisi di Batavia. Prestasinya, peringkat kelima dari tujuh kontestan.

The Rec. Sport Soccer Statistic Foundation (RSSSF) mencatat, pertandingan antarklub pertama yang bersifat kompetitif di Bandung terjadi pada tahun 1907. Staden-wedstrijden (kompetisi kota) dilaksanakan oleh sebuah kepanitiaan bernama Vaandelcomite yang akhirnya dijuarai SIDOLIG. Dua tahun kemudian, dengan titel Coorde-medaile, ajang yang digelar sudah menggunakan sistem round robin ini dijuarai Staats Spoor (SS), tim sepakbola yang diperkuat para pekerja di jawatan kereta api.

Pada tahun 1914, kompetisi antarklub di Bandung sudah mulai terorganisasi lebih baik dan menjadi agenda tahunan menyusul terbentuknya Bandoengsche Voetbal Bond (BVB). Sejak pertama kali dikelolanya, BVB sudah memberlakukan pembagian divisi, Eerste Klasse (Divisi I) dan Tweede Klasse (Divisi II) dan bahkan mulai tahun 1920 ada Derde Klasse (Divisi III).   

Setelah bergulir empat tahun, klub pribumi bernama Opleidingschool voor Inlandsche Ambetenaren (OSVIA) tampil di kompetisi Divisi II musim 1918. Hanya berselang tiga tahun, OSVIA sudah berada di kasta tertinggi kompetisi BVB. Setahun kemudian (1919), Hogere Burger School (HBS) menjadi peserta Divisi II. Pada tahun 1921, giliran klub etnis Tionghoa, Young Men’s Combination (YMC) yang tampil di Divisi III. Pada musim kompetisi tahun 1924, muncul peserta Divisi I dengan nama Stormvogels yang menempati peringkat kelima dari tujuh kontestan. Selanjutnya, pada tahun 1929, muncul juga klub baru bernama Luchtvaart Afdeeling (LA) di Divisi I Kompetisi BVB.

Pada masa ini, bond tandingan BVB didirikan oleh sejumlah tokoh pergerakan nasional yang berbasis di Bandung sekitar tahun 1923. Bond kaum inlander itu bernama Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond (BIVB) yang menaungi sejumlah klub anggotanya. Para pemain BIVB berlatih dan bertandinng di sebuah tanah lapang di depan tribun pacuan kuda Tegallega. Lapangan lain yang digunakan untuk kompetisi antarklubnya adalah di Lapangan Ciroyom dan Cibuntu.

Menurut sejumlah catatan, salah satu tokoh pendiri BIVB adalah Mr. Sjamsoedin. Ketika Sjamsoedin menuntut ilmu di Rechts Hooge School (RHS) Batavia, BIVB dipimpin R. Atot Soeriawinata yang merupakan putra tokoh pejuang wanita Bandung, Dewi Sartika.

Kedua tokoh ini turut membidani kelahiran Persatuan Sepakraga Seluruh Indonesia (PSSI) di Yogyakarta pada tanggal 19 April 1930. Dalam susunan kepengurusan PSSI periode pertama yang dipimpin Ir. Soeratin Sosrosoegondo, R. Atot Soeriwinata dipercaya menjadi Komisaris Jawa Barat dan Sjamsoedin sebagai Konsul Jakarta karena statusnya sebagai mahasiswa RHS Batavia ketika itu.  

Kendati sudah didirikan sejak tahun 1923, tidak diketahui secara pasti daftar nama klub anggota BIVB di awal pendiriannya. Begitu juga halnya dengan kompetisi di antara mereka. Namun, kemungkinan besar, BIVB baru menggelar kompetisi di antara sesama anggotanya pada tahun 1931. Hal itu diketahui dari daftar juara yang dirilis RSSSF yang menyebutkan, pada musim 1931/1932, Kompetisi BIVB dijuarai RAN.

 Dalam perkembangannya, BIVB menghilang dan berganti nama menjadi Persatoean Sepakbola Indonesia Bandoeng (PSIB). Pada masa itu juga muncul perkumpulan sepakbola pribumi lainnya yaitu National Voetbal Bond (NVB).  Pada tanggal 14 Maret 1933, PSIB dan NVB melakukan merger untuk melahirkan bond baru bernama Persib dengan ketuanya Anwar St. Pamoentjak. Sejumlah klub anggotanya antara lain Siap, Soenda, Singgalang, Diana, Matahari, OVU, RAN, HBOM, JOP, Malta dan Merapi.

Sudah bisa ditebak, dipengaruhi situasi politik ketika itu, kehadiran Persib yang didirikan oleh kaum nasionalis, menimbulkan rivalitas tersendiri dengan BVB dan klub-klub anggotanya. Setelah sekian lama terpinggirkan, perkumpulan sepakbola – perkumpulan sepakbola pribumi yang bernaung di bawah Persib mencoba unjuk prestasi. Sebaliknya, anggota BVB mencoba mempertahankan dominasi dan eksistensi sebagai klub-klub elite dengan berbagai fasilitas penunjang dan roda kompetisinya yang sudah tertata apik.

Tidak mau kalah, Persib pun memutar kompetisi antarklub anggotanya, meneruskan hal yang sudah dilakukan VBBO sejak tahun 1931. Seperti halnya BVB, kompetisi antarklub Persib juga sudah mengenal pembagian kelas, dari I hingga III. Pada tahun 1937, kompetisi antarklub Persib diikuti oleh 11 anggotanya yaitu Diana, Merapi, Molto, MOS, OPI, RAN, REA, Siap, Singgalang, Smeroe, dan Soenda. Dalam perkembangannya, nama MOS menghilang dari daftar peserta dan dilanjutkan oleh Sedar. Kompetisi dimainkan di Lapangan Tegallega dan Kebonkalapa.  

Di kompetisi antarkota, Persib pun mencoba unjuk gigi. Kurang dari tiga bulan setelah berdiri, Persib yang untuk pertama kalinya tampil di turnamen antarkota (stedentournoi) PSSI berhasil menjadi runner-up di bawah Voetbalbond Indonesia Jacatra (VIJ). Turnamen diadakan bertepatan dengan Kongres PSSI ke-3 di Surabaya, 2-5 Juni 1933. Pada saat bersamaan, di Nieuw Houtrust (Lapangan UNI) Bandung, BVB hanya menempati peringkat ketiga Kampioenswedstrijden (putaran final) turnamen antarkota anggota NIVB yang memperebut trofi Gouden Kampioens-Medaille.

Pada tahun 1934, BVB yang unjuk gigi dengan menjuarai Kampioenswedstrijden NIVBdi Semarang. Sementara Persib yang bertarung di Bandung (RSSSF menyebutkan putaran final digelar di Solo sebagai tuan rumah Kongres PSSI ke-4), harus kembali menjadi runner-up, lagi-lagi kalah bersaing dengan VIJ.

Kendati berhasil menjuarai Kampioenswedstrijden NIVB, BVB sebenarnya sedang menghadapi konflik internal. Gara-gara diskorsing tanpa alasan yang jelas oleh BVB dan pengaduannya tak didengar NIVB, UNI membelot dan membentuk bond baru bernama Bandoengsche Voetbal Unie (BVU). Dua klub yang digandengnya adalah Jong Ambon dan Jong Minahasa. Selanjutnya, pada saat hampir bersamaan dengan penampilan BVB di Kampioenswedstrijden, BVU mengikuti turnamen tandingan di Jakarta, 19-21 Mei 1934, bersama Voetbalbond Batavia en Omstreken (VBO) yang diskorsing NIVB dalam Kongres Luar Biasa (KLB) di Bandung, 23 Desember 1933 dan bond asal Sukabumi yang membelot pada tanggal 31 Maret 1934. Di turnamen tandingan ini, BVU yang dimotori para pemain UNI menjadi runner-up di bawah VBO.

Dualisme BVU dan BVB di Bandung berakhir pada tanggal 28 Februari 1935 dengan terbentuknya Bandoeng Voetbal Bond Omstreken (BVBO) yang kemudian berganti nama menjadi Voetbal Bond Bandoeng en Omstreken (VBBO) pada tanggal 15 Desember 1935. Di masa transisi ini, BVBO menjadi runner-up di bawah VBO yang kembali bergabung di Kampioenwedstreijden NIVB di Jakarta.  Sementara Persib, justru menghilang dari posisi tiga besar Kejuaraan PSSI yang berlangsung di Semarang.

Meskipun belum mampu menjadi juara, pada tahun 1936, Persib kembali mencatat prestasi lumayan mengesankan dengan menempati posisi runner-up Stedentournoi PSSI yang putaran finalnya diadakan di Lapangan Tegallega. Bertarung di hadapan publiknya sendiri, Persib kalah 0-2 dari Persis Surakarta pada pertandingan penentuan. Sedangkan VBBO yang bertarung di Lapangan Tionghoa Surabaya hanya menempati peringkat ketiga.

Pada tahun 1937, ketika Nederlandsch-Indische Voetbal Unie (NIVU) — federasi sepakbola Hindia Belanda pengganti NIVB sejak 9 Juni 1935 – “berdamai” dengan PSSI lewat Gentlement Agreement-nya, Persib dan VBBO sama-sama meraih prestasi puncak. Bertarung di Bandung, 14-17 Mei 1937, VBBO meraup poin tertinggi dari empat kontestan Voetbalbond Semarang en Omstreken (VSO), Voetbalbond Batavia en Omstreken (VBO) dan Soerabajasche Voetbal Bond (SVB). Di Lapangan Sriwedari Solo, 15-17 Mei 1937, Persib yang dimotori Jasin, Arifin, Kucid, Edang, Ibrahim Iskandar, Saban, Sugondo, dan Adang menjungkalkan juara bertahan dalam dua musim sebelumnya, Persis dengan skor 2-1 pada partai penentuan juara.

Para pemain Persib disambut di Stasiun Bandung usai menjuarai Kejurnas PSSI 1937 di Solo (Repro Majalah Olahraga)

Sayang, pada musim kompetisi 1937/1938, Persib bukan hanya gagal mempertahankan gelarnya, tapi juga tidak mampu lolos ke putaran final karena kalah bersaing dengan VIJ di tingkat distrik. Hingga kompetisi dihentikan akibat pendudukan Jepang pada tahun 1942, prestasi terbaik Persib hanya menempati peringkat ketiga pada tahun 1939 dan 1941. Sementara rival sekotanya, VBBO menjadi runner-up NIVU pada tahun 1938 dan 1939.

Di masa pendudukan Jepang, seluruh kegiatan sepakbola, baik di bawah NIVU maupun PSSI dilarang. Sebab, Jepang memiliki organisasi keolahragaan bernama Reo Tai Iku Kai.

Setelah menyatakan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, sepakbola Indonesia di bawah naungan PSSI tidak serta-merta hidup kembali. Di awal kemerdekaan, tokoh pergerakan nasional di sejumlah daerah masih fokus mempertahankan kemerdekaan dari ancaman agresi militer Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia dengan mendompleng tentara sekutu di bawah Nederlandsch Indie Civil Administratie (NICA).

Dalam perkembangannya, tentara Belanda kembali menguasai sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Bandung. Berdasarkan Perjanjian Renville yang ditandatangani pada tanggal 17 Januari 1948, wilayah Jawa Barat merupakan daerah kekuasaan Belanda.

“Sepak bola Sinyoh (Belanda) telah hidup kembali dengan lapangan elite: UNI, SIDOLIG, dan Sparta” tutur R. Ading Affandi (RAF), menceritakan persepakbolaan Bandung di awal masa kemerdekaan. (Lintasan Sejarah Persib; 2001)

Meskipun demikian, masih berdasarkan catatan RAF, beberapa pejuang kemerdekaan dan para pemuda anggota Tentara Pelajar yang tidak turut hijrah ke Yogyakarta mencoba menghidupkan kembali Persib. Tentu saja dengan cara menyelundup dan sembunyi-sembunyi. RAF menyebutkan, Persib akhirnya bisa dihidupkan kembali di sebuah lapangan yang disiapkan Lurah Cikawao di Cilentah. Klub-klub anggota Persib yang berkiprah dalam kompetisi, dalam catatan RAF, di antaranya PST Cikawao, Sinar Muda, Kessit, Diana, Matahari, dan tim sepakbola Tentara Pelajar yang tergabung dalam SPI (sekarang IPI).

Boleh jadi, keberanian memutar roda kompetisi di daerah pendudukan Belanda inilah yang membuat Persib tetap memiliki tim yang siap bertanding. Tercatat, pertandingan pertama yang dilakukan Persib setelah perang kemerdekaan berakhir (Agresi Militer Belanda II 1948), adalah melawan Persija pada tahun 1949. Sebelas pemain yang memperkuat Persib dalam pertandingan ini adalah Nandang, Muharam, Jacob Taihitu, Oman, Anda, Saleh, Soeharto, Soendawa, Soedarmo, Willy dan Enda. Laga ini berakhir 2-1 untuk kemenangan Persib.

Makanya, ketika Persatuan Olahraga Republik Indonesia (PORI) menggelar semacam babak kualifikasi untuk mencari wakil Jawa Barat ke sebuah turnamen dalam rangka Kongres PSSI di Semarang, Persib menolak bertanding dengan Persija. Atas penolakan Persib itu, PORI menetapkan Persija sebagai wakil Jawa Barat di turnamen Kongres PSSI 1950. Kontestan lainnya adalah PSIS (juara Jawa Tengah) dan Persibaya (sekarang Persebaya) sebagai juara Jawa Timur.

Karena keukeuh merasa berhak tampil di turnamen tersebut, skuad Persib tetap datang ke Semarang. PSSI yang sudah dihidupkan kembali pada tanggal 2 September 1950, akhirnya memutuskan Persib sebagai peserta dan jadwal yang sebelumnya sudah disusun dengan format tiga peserta diubah dengan sistem knock out. Persib menghadapi tuan rumah PSIS dan Persibaya kontra Persija. Pemenang kedua pertandingan tampil di partai puncak.

Menghadapi tuan rumah, Persib mempermalukan PSIS 2-0 lewat dua gol Witarsa di babak pertama dan tendangan penalti Jahja di paruh kedua. Dalam laga ini, starter Persib adalah Smith (kiper); Leepel, Wagiman, Nandang, Jahja, Anas, Anang, Tanu, Anda, Muharam, dan Witarsa. Berkat kemenangan itu, Persib menantang Persibaya yang membantai Persija 6-1.

Persib akhirnya menobatkan diri sebagai juara turnamen “tidak resmi” PSSI setelah mengalahkan Persibaya 2-0 pada partai puncak, 4 September 1950. Dua gol kemenangan Persib diborong Anda. Turnamen ini disebut unofficial karena PSSI baru menggelar kembali kompetisi resminya pada tahun 1951.

Memperhatikan nama Smith (kiper) dan Leepel dalam skuad Persib yang menjuarai turnamen ini, jelas keduanya bukan nama pribumi. Hal ini bisa menjadi gambaran bahwa sebelum Voetbal Unie in de Verenigde Staten van Indonesie (VUVSI) atau Ikatan Sepakraga Negara Indonesia Serikat (ISNIS), federasi sepakbola Republik Indonesia Serikat (RIS) pengganti NIVU di zaman Hindia Belanda dibubarkan pada tahun 1951 yang diikuti bond-bond anggotanya, beberapa pemain VBBO sudah bergabung dengan klub-klub anggota Persib. Sebelum bubar, VUVSI/ISNIS sempat menggelar dua kejuaraan antarkota pada tahun 1949 dan 1950. Salah satu pesertanya adalah bond dari Bandung, VBBO.

Setelah bubar, beberapa anggota VUVSI/ISNIS melakukan merger dengan anggota PSSI. Namun ada juga yang membubarkan diri, seperti VBBO di Bandung. Sejumlah klub anggotanya, seperti UNI dan SIDOLIG bergabung dengan Persib yang selanjutnya menjadi satu-satunya perserikatan sepakbola di Bandung.

Naskah diambil dari buku “Persib Juara” karya Endan Suhendra terbitan Rak Buku (2014)